GUBERNUR KALBAR MENERIMA PENGHARGAAN MAMASI DARI MASYARAKAT DAYAK TAMAN


Video Support by : borndeo.com  || Camera & Edited by : Deo

||  Team Creative by : Fetro

***

Sumber Berita:  http://www.radarnusantara.com/2015/09/gubernur-kalbar-dapat-penghargaan-mamasi.html

Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis, MH menerima penghargaan Mamasi dari masyarakat Dayak Taman Kapuas Hulu, Minggu (27/9/2015). Penobatan dilakukan di Soo Langke atau Rumah Betang Melapi 1 Patamuan, Desa Melapi, Kecamatan Putussibau Selatan, Kapuas Hulu.” Selain arg bertahu.
Menurut Tua’ Rumah Betang Melapi 1 Patamuan, Pulo’ (70) menjelaskan, mamasi adalah penghargaan tertinggi yang diberikan masyarakat Dayak Taman Kapuas Hulu kepada seseorang yang dinilai punya tua, punya bobot dan bisa mengambil berkat dan karunia untuk masyarakat Dayak Taman. Dayak Taman adalah salah satu sub suku Dayak yang mendiami sepanjang pesisir hulu sungai Kapuas di Putussibau.
Kepala Desa Melapi, Rantai (46), menjelaskan, panjang Betang Melapi 1 Patamuan 220 meter, lebar 35 meter, 74 pintu, 49 kepala keluarga, serta 300 jiwa. Rantai menjelaskan, soo Langke atau rumah bentang Melapi Patamuan selesai dibangun 1943, sekarang umurnya 72 tahun dan sudah diakui sebagai cagar budaya. Dari rumah panjang beratap sirap belian, ini lahir Djeranding Abdurrahman Pahlawan Nasional yang pernah dibuang ke Boven Digoel. Juga di tempat tersebut lahir tokoh-tokoh politik Dayak seperti F.C. Palaoensoeka pendiri PPD. Tokoh pejuang PD Massuka Djanting tokoh pendiri Bentang atau Betang soo Langke. HS laurens Mangaan. Dan Drs. Massardy Kaphat.  Dijelaskan Pak Pulo’ upacara Mamasi diawali penyambutan tamu yang akan diamasi di halaman Rumah Panjang dan tamu tersebut harus memotong umpang (Kayu penghalang) yang dipasang sebagai ucapan selamat datang di Rumah Panjang.
Upacara Mamasi sendiri adalah upacara penghargaan dari seseorang atau beberapa wanita kepada pria tertentu dengan kriteria pria diantaranya pria yang ksatria, tokoh atau pemimpin yang arif bijaksana, hartawan yang dermawan. Pria tersebut pada upacara gawai besar Dayak Taman mendapat kehormatan atau kepercayaan menombak atau menyembelih hewan kurban sapi atau kerbau yang dimasukan kandang khusus atau disebut Pandung. Pria tersebut adalah pejabat tinggi yang berkunjung secara resmi ke Betang Melapi 1 Patamuan. Pria tersebut bisa saja sebagai tokoh yang berjasa kepada bangsa dan negara.
Kata Pak Pulo’ juga, prosesi mamasi dipimpin Ketua Adat dengan terlebih dahulu memasang anyaman daun enau dalam bahasa Taman Indulu amas-amas. Dilengkapi bulu burung enggang yang dianggap sebagai mahkota tertinggi. Selain mahkota juga jarat tangan dan tolang manik yang diikat di tangan pria yang di mamasi sebagai simbol kekuatan persaudaraan dan panjang umur dan kekuatan tubuh. Dilanjutkan pemberian minuman tradisional dari wanita yang mamasi kepada pria yang dimamasi dengan 7 macam minuman air garam, air jahe, buah lasa’ (air asam). Air putih untuk kejernihan pikiran, maram, papa’ minyak kelapa sebagai pertanda lancarnya kehidupan kita, Setelah itu dilakukan tarian bersama
Dariya Sosoak atau tarian gembira.
Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis, MH Mengingatkan agar menjadi dayak jangan minder, “harus punya prinsip, peluang terbuka lebar dengan didukung teknologi maju, nasib kita berubah atau tidaknya bergantung pada diri kita sendiri,”ujar Cornelis yang tanggal 19 September 2015 lalu dilantik sebagai Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN).” kita sudah diberi kesempatan oleh Negara untuk maju,”ujar Cornelis lagi. (Santo)
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply