Tagged: Apai Janggut

Bandi Anak Ragai, Tetua adat Dayak Iban, Sei Utik, Kalimantan Barat

“Bandi Anak Ragai”
Vocal/Lyric : Ade Tanesia
Music : Krishna Enchik dan Pramono
Camera/Editing  : Alberto Deo Prawira

Bandi Anak Ragai, Tetua adat Dayak Iban, Sei Utik, Kalimantan Barat

Ade Tanesia bertemu Bandi Anak Ragai, atau yang biasa dipanggil Apay Janggut pada bulan Juni 2012 di rumah panjang Sei Utik, Kalimantan Barat. “Sungguh, sorot matanya begitu tajam dan semangatnya menembus siapapun yang berbicara dengannya, termasuk diriku” ungkap  Ade. Saat itu, beliau banyak bercerita tentang kondisi hutan di Kalimantan. Ia begitu terpukul saat kami bercerita bahwa perkebunan kelapa sawit sudah mulai masuk ke dekat Danau Sentarum yang merupakan cadangan air bagi Sungai Kapuas di Kalimantan Barat. Ia tetap bersemangat dan menyatakan filosofinya tentang alam. Beberapa bait dalam lagu ini mengutip dari kata-kata yang mengalir dari dirinya.

Bandi Anak Ragai, adalah seorang tetua adat Dayak Iban yang tinggal di Rumah Panjang Sei Utik, Kalimantan Barat. Ia berjuang mempertahankan tanah adatnya yang merupakan warisan para leluluhurnya dari caplokan korporasi. Dengan segala perjuangannya, masyarakat adat Dayak Iban di Sei Utik dapat memperoleh sertifikat dari kementrian kehutanan sehingga tanah adatnya seluas sekitar 9000 hektar dapat terpelihara hingga sekarang. Kalimantan Barat memiiki bentangan hutan tropis basah yang sangat penting untuk menahan terjangan pemanasan global. Namun sayangnya, hutan di Kalimantan pun semakin habis dilumat perkebunan kelapa sawit. Mempertahankan hutan di Kalimantan sama dengan menyelamatkan umat manusia.

Ade Tanesia mengungkapkan, lagu ini saya persembahkan untuk Bandi Anak Ragai, sebagai bentuk penghormatan saya atas keberaniannya. Ia yang memasang “badannya” meletakkan nyawanya di belantara untuk keberlangsungan generasi Dayak Iban di masa mendatang.

Bandi Anak Ragai

Renta usiamu tak surutkan
sorot tajam matamu
Renta usia tak surutkan
perjuanganmu ntuk mempertahankan tanah leluhur

Dan kau katakan
Bumi ini tak ada bibitnya
Siapa yang akan menggantikannya
Bila manusia merusaknya, mencederainya

Reff:
Tak kau biarkan kerakusan, melumatkan hutanmu
Tak kau biarkan kedegilan, meretakkan tanahmu

Renta usiamu tak surutkan
sorot tajam matamu
Renta usia tak surutkan
perjuanganmu ntuk pertahankan tanah leluhur

Dan kau katakan
Bumi ini tak ada bibitnya
Siapa yang akan menggantikannya……

Engkau Katakan
Rusaknya bumi ini bukan karena kebodohan
Rusaknya bumi ini adalah kesengajaan
dan siapapun yang merusak
haruslah DILAWAN ……….

www.kongres4.aman.or.id/2012/05/para-…utan-kita.asp